Monthly Archives: October 2016

will be a grandma (someday, I think)

Standard

blog-1

Sky: “Kalau aku nanti punya anak, berarti mama jadi…Oma?”
Aku: “Iya betul.”
Sky: “Dan papa berarti jadi…Opa! Hahaha!”
(entah mengapa dia menganggap ini lebih lucu daripada aku jadi Oma)
Sky: “Emm, lalu kalau sudah begitu, aku memanggil mama…(dia menyebut namaku)?”
Aku: “Enggaklah, kamu tetap bilang ‘mama’ aja. Aku kan selalu dan selamanya tetap sebagai mamamu.”
Sky: “Juga kalau aku nanti…berumur 20 tahun? (aku mengangguk) O, aku baru tahu…”
Aku: “Ya, aku akan selalu jadi mamamu dan kamu selalu jadi anakku.”
(dia harus berpikir keras mencerna kalimat ini)
Sky: “Mama, kalau kamu nanti jadi Oma, mau nggak sering melakukan hal-hal menyenangkan bersama anak-anakku?”
Aku: “O ya tentu! Senang deh! Dan kalau kita tidak tinggal terlalu jauh, aku mau lho ikut menjaga mereka. Pasti seru.”
Sky: “Kalau aku tinggalnya jauh, nanti kami datang berkunjung ya. Nanti kita bisa ngobrol seru berdua lagi. Ya?”
(oh oh oh, anak ini sudah berencana macam-macam aja…baru 4 1/2 tahun umurnya!)

Waktu aku memeluknya dan mengucapkan “selamat tidur” (selalu dalam bahasa Indonesia) sebelum aku turun ke lantai bawah, dia berbisik lembut di telingaku: “Oh mamaku sayang…mama tuaku sayang…”
(hmm…kenapa ada kata ‘tua’ nya ya???)

NB: Di foto terlihat gambar yang dibuatnya baru-baru ini untuk Oma (Oma-nya yang asli ya). Dia menjelaskan: “Oma rambutnya pendek abu-abu dan gaunnya berwarna ungu penuh bunga. Oma suka sekali sama bunga. Dan dia sedang mengajak anjingnya berjalan-jalan, dipegangnya tali leher anjing erat-erat.”

***

blog-1a
Sky: “Als ik kinderen heb, ben je dus…Oma?”
Ik: “Ja, dat is zo ja.”
Sky: “En papa is dus…Opa! Hahaha!”
(geen idee waarom ze dit grappiger vond dan ik als Oma)
Sky: “Uhm, en noem ik jou dan…(ze noemde mijn naam)?”
Ik: “Nee joh, je blijft gewoon altijd ‘mama’ tegen me zeggen. Ik blijf toch voor altijd je mama.”
Sky: “Ook als ik…20 jaar ben? (ik knikte) O, dat wist ik niet…”
Ik: “Ja, ik blijf altijd je mama en je blijft altijd mijn dochtertje.”
(ze moest er wel even over nadenken)
Sky: “Mama, zou je dan…als je Oma bent, leuke dingen met mijn kinderen doen?”
Ik: “Oja zeker! Heel veel leuke dingen zelfs! En als wij niet zo ver van elkaar wonen, dan wil ik wel op ze passen hoor, vind ik leuk.”
Sky: “Als we ver wonen, dan komen we op bezoek. Dan kunnen we met z’n tweeën babbelen, goed?”
(oh oh oh, wat heeft ze dit allemaal toch al op een rijtje…op 4 1/2-jarige leeftijd al)

Toen ik haar knuffelde om welterusten (“selamat tidur”, altijd in het Indonesisch) te zeggen voordat ik naar beneden ging, zei ze zacht terug: “Oh mijn lieve mama toch, mijn oude lieve mama…”
(hmm…had dat woordje ‘oud’ echt wel gemoeten??)

PS: Op de foto is haar recente tekening voor Oma (haar echte Oma dan). Ze legde uit: “Oma heeft kort grijs haar en paarse jurk met bloemetjes. Ze houdt erg veel van bloemen. En hier is ze haar hond aan het uitlaten en ze houdt de riem goed vast.”

Advertisements

homeless people

Standard

blog-1

Sky: “Mama, tidak semua orang punya rumah kan ya?”
Aku: “Iya betul.”
Sky: “Seperti yang kita lihat di koran waktu itu…orang-orang yang tinggal di tenda begitu.”
(Sebetulnya aku tidak ingat koran mana dan berita apa yang dia maksud. Tapi yang jelas berita itu berkesan buatnya, mungkin lebih dari yang kami harapkan. Aku tidak tahu harus bilang apa…).

Sky: “Tapi bagaimana sih kejadiannya ma, sampai orang-orang itu tidak punya rumah?”
Aku: “Yah…ada orang yang tidak bisa membayar atau membeli rumah. Ada juga yang kehilangan rumahnya, misalnya karena kebakaran, atau gempa bumi.”
(Wahhh susah ya menjawab pertanyaan seperti ini. Selalu ragu-ragu sejauh mana harus menggunakan fakta tapi tidak susah dimengerti dan sesuai untuk pemahaman anak seusianya).

Sky: “Kalau ada rumah terbakar, orang yang tinggal di dalamnya kan bisa tinggal bersama orang lain? Atau di hotel?”
Aku: “Ya, mereka pasti ditampung kok. Tapi mungkin nggak bisa terlalu lama tinggal bersama orang lain. Atau mungkin uangnya tidak cukup untuk tinggal lama di hotel.”
Sky: “Mama, kalau aku kenal orang seperti itu, yang tidak punya rumah karena misalnya kebakaran…mereka boleh tinggal di rumahku lho!”
(Blessed you, my girl. Hatimu baik. Biarkan kebaikanmu menjadi berkat buat sesama dan dunia ya).

***

blog-1a

Sky: “Mama, niet alle mensen hebben een huis hè?”
Ik: “Nee, dat klopt.”
Sky: “Zoals wat we toen zagen in de krant…mensen die in tenten wonen enzo.”
(Ik had eigenlijk geen idee welke krant ze bedoelde en welk bericht dat precies was. Maar het maakt blijkbaar meer indruk dan dat we zouden willen. Ik zweeg, want ik wist niet wat ik moest zeggen).

Sky: “Maar hoe komt het mama, dat die mensen geen huis hebben?”
Ik: “Tja…er zijn mensen die een huis niet kunnen betalen. Of hun huis kwijt raken, door brand bijvoorbeeld, of aardbeving.”
(Jeee wat is zo’n vraag toch moeilijk te beantwoorden. Het eeuwige twijfel tussen de waarheid vertellen en niet al te moeilijk en bijpassend maken voor een kleuterwereld).

Sky: “Als een huis uitgebrand is, kunnen de mensen toch bij andere mensen gaan wonen? Of in een hotel?”
Ik: “Ja, volgens mij doen ze dat ook hoor. Maar misschien kunnen ze niet te lang bij andere mensen wonen. Of niet genoeg geld om lang in een hotel te verblijven.”
Sky: “Nou mama, als ik zulke mensen ken, die geen huis hebben door brand ofzo…dan mogen ze in mijn huis wonen hoor.”
(Blessed you, my girl. Je hebt een groot hart. Laat het een zegen voor deze wereld zijn).

blog-1b

under the ground

Standard

blog-1

Percakapan baru-baru ini saat mengantar Sky pergi tidur malam (bukan saat yang tepat, tapi ya gimana, dia yang mulai kok. Dan aku tidak mau memanipulasi tema yang memang rumit ini. Sewajarnya saja, tidak terlalu enteng tapi juga tidak terlalu berat. Ya, temanya tentang kematian.)

Sky: “Mama, kalau kita mati, kita bakal tinggal di bawah tanah kan? Seperti opa, ayahnya papa?”
Aku: “Yah, sebagian orang percaya begitu. Ada juga yang percaya kalau kita bakal pergi ke tempat yang indah, yang disebut surga atau paradise. Orang lain lagi percaya kalau kita bakal tinggal di antara bintang-bintang di angkasa, atau di antara ikan-ikan di laut.”
Sky: “Dan ada juga yang bilang kalau nanti di bawah tanah kita bakal melanjutkan hidup.”

Yang mengikuti blog ini mungkin sudah tahu bahwa Sky adalah anak yang sensitif. Dia peka detail dan menyerap semua emosi, segalanya dia rasakan dobel lebih banyak dan lebih dalam. Tema yang menyentuh perasaan seperti mengharukan atau menyedihkan akan menyentuhnya lebih daripada orang lain. Seperti saat ini, saat bibirnya mulai bergetar dan matanya berkaca-kaca penuh air mata.

Sky: “Dan aku berharap, mama…bahwa nanti di bawah tanah kita bakal bertemu lagi, bahwa kita bisa bareng-bareng lagi…”

Bibirnya yang bergetar masih persis bisa menyelesaikan harapan yang indah ini, sebelum air matanya jatuh tidak terbendung lagi. Aku menghiburnya dengan mengatakan bahwa kalau kita sungguh-sungguh menyayangi satu sama lain, bahwa kita akan selalu bersama-sama, di mana pun dan dalam bentuk apa pun. Tapi juga bahwa dia tidak perlu terlalu banyak berpikir tentang kematian, karena kami masih akan hidup lama dan bahagia.

***

blog-1b
Een recent gesprek toen ik Sky naar bed bracht (geen handig moment, maar ja, ze begon en ik wil het thema niet moeilijker maken dan het is. Ja, het gaat over de dood.)

Sky: “Mama, als we dood gaan, gaan we onder de grond, toch? Net als opa, de vader van papa?”
Ik: “Nou ja, sommige mensen geloven dat. Anderen geloven dat we naar een mooie plek gaan, dat noemen ze hemel of paradijs. Weer anderen geloven dat we dan tussen de sterren wonen, of tussen de vissen in de zee.”
Sky: “En sommigen zeggen dat we onder de grond dan verder gaan leven.”

Zoals jullie misschien wel weten, Sky is een gevoelig kind. Ze neemt alle details en emoties waar, en alles komt ongeveer dubbel zo veel/diep/hard aan. Ontroerende of verdrietige onderwerpen zijn extra gevoelig. Zoals nu, beginnen haar lippen ook te trillen en haar ogen te glanzen van tranen.

Sky: “En ik hoop mama…dat we elkaar onder de grond weer eens gaan zien, dat we dan weer samen zijn…”

Ze kon nog net met haar trillende lippen deze mooie wens uitspreken voordat ze in tranen uitbarstte. Ik heb haar getroost door te zeggen dat als je veel van elkaar houdt, dat je voor altijd samen kunnen zijn, waar dan ook en in wat voor vorm dan ook. Maar ook dat ze niet te veel over de dood moet gaan denken, want we zullen nog lang en gelukkig leven.

blog-1a