bilingual baby

Standard

1 -kkYa, Sky kami besarkan dengan dua bahasa. Kalau mama sendirian dengan Sky maka menggunakan bahasa Indonesia. Kalau ada orang lain (termasuk papa) maka bahasanya ganti jadi bahasa Belanda. Kedengarannya sederhana, tapi ini membutuhkan konsentrasi dan harus konsekuen dalam prakteknya, terutama tentunya buat mama. Karena tidak mudah untuk melihat Sky kadang bingung, hari ini mama menyebut seekor binatang di buku “kikker” dan hari berikutnya (karena papa bekerja) nama binatangnya jadi “kodok”, hehe… Jadi dia sekarang nggak mau mengucapkan kata “kikker” lagi, padahal minggu lalu sudah bisa. Rasanya ini masalah khas awal-awal belajar dwi bahasa. Agak bingung dulu. Dia harus merasa percaya diri dulu di kedua bahasa sebelum mulai bicara. Ada kemungkinan juga dia bakal agak lambat bicara dibanding kalau dia hanya belajar satu bahasa (biarpun ini katanya tidak terbukti sih). Waktu awal mengambil keputusan kami banyak sekali berdiskusi, dan juga sempat ragu-ragu apakah ini keputusan yang terbaik. Tapi yang jelas kami setuju bahwa Sky bakal kami ajari bahasa Indonesia dan Belanda, karena kami tidak mau dia belajar bahasa Inggris yang “salah” (atau dengan logat tertentu). Lagipula dia nantinya kan bakal belajar bahasa Inggris di sekolah. Kami sudah banyak mencari dan membaca informasi, tapi artikel terbaru seperti ini (bhs.Indo) atau ini (dalam bhs.Inggris) membuat kami jadi lebih yakin bahwa kami sudah menjalani pilihan yang benar. Bayi ternyata mulai usia tujuh bulan sudah mampu membedakan dua bahasa yang berbeda. Jadi sekarang tinggal menunggu waktu saja sampai Sky bisa (dan mau) mengucapkan kedua kata “kodok” dan “kikker”!

***

Ja, we voeden Sky tweetalig op. Als mama alleen met Sky is spreekt ze Indonesisch tegen haar. Met andere mensen erbij (inclusief papa) dan wordt de voertaal Nederlands. Het klinkt eenvoudig, maar het vereist wel consequentheid en concentratie, vooral van mama. Want het is niet makkelijk om de verwarring in Sky’s ogen (soms) te trotseren. De ene dag zegt mama “kikker” en de volgende dag (omdat papa de hele dag werkt) wordt hetzelfde dier “kodok” genoemd. Dus het woordje “kikker” dat Sky een week geleden al kon zeggen horen we nu niet meer uit haar mondje. Waarschijnlijk is dit een typisch opstart-probleem met tweetaligheid. Eerst moet ze een zekere zelfverzekerheid krijgen over beide talen en het kan zijn dat ze dan iets later gaat praten dan als ze alleen één taal hoort (hoewel dit ook wetenschappelijk ontkracht is). We hebben aan het begin van onze beslissing uiteraard veel discussies gehad, en achteraf ook nog wat twijfels. De discussie over welke twee talen het precies worden hebben we enigszins wel snel besloten: we willen niet dat Sky “fout” Engels (met accent) van ons leert, en ze zal het bovendien ook op school gaan leren. Veel bronnen hebben we al geraadpleegd, maar een recente artikel zoals deze bevestigt toch weer waar we in geloven. Baby’s zijn in staat om na zeven maanden twee talen te onderscheiden. Het is alleen een kwestie van afwachten totdat Sky beide “kikker” en “kodok” kan (en wil) zeggen!

Advertisements

2 responses »

  1. Waduh pucuk dicinta ulam tiba,aku senang kalau Sky bisa sedikit2 bhs Indo.Opa dan oma Indo sdh kuatir sulit berkomunikasi dgn cucu pertama he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s